Kardinal Suharyo Luncurkan “Buku Tata Perayaan Ekaristi” Baru untuk Gereja Katolik Indonesia

Ignatius Kardinal Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), me-launching buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) baru untuk Gereja Katolik Indonesia, di Gedung Penerbit dan Toko Rohani OBOR, Jakarta, 7 Mei 2021. Adapun buku TPE yang di-launching ini adalah buku untuk imam yang memimpin ekaristi.

Turut hadir dalam acara ini, antara lain, Dewan Moneter KWI, yakni Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, dan Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San; Sekjen KWI, yang juga Uskup Bandung dan Ketua Perkumpulan Rohani OBOR, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC; Sekretaris Komisi Liturgi KWI, RD. Yohanes Rusae; dan Direktur Penerbit dan Toko Rohani OBOR, RD. F.X. Sutanto.

[dari kiri] Mgr. Agustinus Agus (Uskup Agung Pontianak), Mgr. Silvester San Uskup Denpasar (Uskup Denpasar), Bapak Ignatius Kardinal Suharyo (Ketua KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC (Sekjen KWI, Ketua Perkumpulan Rohani OBOR)

Sementara hadir secara daring lewat zoom meet, antara lain, Ketua Komisi Liturgi KWI, yang juga Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Bodeng Timang, para ketua komisi liturgi keuskupan-keuskupan di Indonesia, para imam, biarawan/ti, dan sejumlah umat.

Mgr. Petrus Boddeng Timang (Ketua Komisi Liturgi KWI) hadir memberikan kata sambutan melalui Zoom.

Kardinal Suharyo, yang juga Uskup Agung Jakarta, mengatakan, Konferensi Waligereja Indonesia melalui Komisi Liturgi dan Penerbit Rohani OBOR menghadirkan buku TPE baru ini sebagai sarana agar merayakan Ekaristi dengan baik.

Menurutnya, satu hal yang layak disyukuri dari umat Katolik di Indonesia adalah cinta akan ekaristi. “Perayaan ekaristi di paroki-paroki tidak pernah kurang peserta bahkan di masa sulit saat pandemi ini, terus dicari jalan agar umat bisa mengikuti perayaan ekaristi, termasuk melalui TVRI, yang sebelumnya tidak pernah ada.”

Suharyo menjelaskan, buku TPE yang dipakai di Indonesia sampai saat ini adalah TPE tahun 2005, yang disusun berdasarkan buku Misale Romawi tahun 2002. Diberi nama TPE 2005 karena resmi digunakan pada tahun itu.

Peluncuran TPE ditandai dengan penyerahan buku dan pemukulan gong oleh Bapak Kardinal Suharyo.

Namun, lanjutnya, pada tahun 2008 muncul buku Misale Romawi baru, sehingga KWI mengusahakan supaya TPE 2005 yang didasarkan pada Misale Romawi 2002 itu disesuaikan dengan Misale romawi 2008, maka jadilah TPE 2020. Diberi nama TPE 2020, karena finalisasi rumusan doa dan lain sebagainya pada tahun 2020 lalu.

Suharyo menegaskan, dengan hadirnya TPE baru ini, maka buku TPE 2005 tidak digunakan lagi, yang batas terakhir penggunaannya sampai 1 November 2021 mendatang. Ia pun mempersilakan koleganya di keuskupan masing-masing untuk menentukan kapan TPE ini mulai dipakai.

Bapak Ignatius Kardinal Suharyo

“Tetapi, tenggat waktu tidak berlakunya lagi TPE 2005 adalah tangga 1 November tahun 2021.  Jadi, sesudah tanggal itu, TPE lama tidak dipakai lagi dan satu-satunya TPE yang dipakai adalah TPE 2020,” kata Kardinal asal Sedayu, Yogyakarta itu.

“Saya kadang masih melihat bahkan ada yang masih menggunakan TPE 1970, dari abad yang lalu. Ini seharusnya dimasukan ke museum bahkan dibakar juga boleh.”

Suharyo menuturkan, penggunaan TPE yang sama ini bukan sekadar buku yang dipakai, melainkan TPE ini menjadi wujud kesadaran kita bahwa Gereja itu satu. “Kita memakai Misale Romawi karena memang kita dari Gereja Katolik Roma Ritus Latin, maka sebagai tanda kesatuan kita dengan seluruh Gereja, kita menggunakan buku itu,” katanya.

Sementara itu, Mgr. Antonius Subianto OSC mengatakan, TPE baru ini merupakan hasil kerja keras berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung.

Ia pun berharap, kehadiran TPE baru ini “makin mengajak kita semua memahami misteri ekaristi, makin juga berpartisipasi di dalamnya, sehingga kita makin berjumpa dengan Yesus yang mengorbankan diri dalam perayaan ekaristi dan kita mengalami betapa besar kasih Allah dalam perayaan ekaristi.”

“Mudah-mudahan TPE ini sungguh menggerakkan dan menjadi motivasi kita untuk menyiapkan liturgi ekaristi dengan lebih baik, lebih benar, lebih indah, lebih hikmat,” ujarnya.

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC

Hal senada disampaikan Mgr. Bodeng Timang, Ketua Komisi Liturgi KWI, yang hadir secara daring dari Keuskupan Banjarmasin. “Peristiwa hari ini merupakan puncak dari kerja begitu banyak unsur. Dan sekarang dengan rendah hati, Komlit mempersembahkan buku ini kepada masyarakat Katolik Indonesia.”

Mgr. Bodeng Timang meminta seluruh imam yang akan menggunakan buku TPE ini untuk sungguh-sungguh mempelajari pemakaiannya terutama bagian yang ditulis dengan tinta merah (rubrik) dalam buku ini.

Launching dan sosialiasi TPE baru ini diselenggarakan dalam kerja sama Penerbit dan Toko Rohani, Komisi Liturgi KWI, dan Komisi Komsos KWI. Selain melalui zoom meet, acara ini disiarkan live di kanal Youtube OBORMEDIA, KOMSOS KWI, KOMSOS KAJ, dan KOMSOS Keuskupan BANDUNG.

Ian Saf (Red. OBOR)

Panitia penyelenggara : OBOR-Komlit KWI-Komsos KWI
Tim siaran : Komsos KAJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *