ZIARAH BATIN Hari Ini

Jumat, 20 Juli 2018

 

Pekan Biasa XV (H)
Elia, Nabi; Sta. Margaretha dr Antiokhia; 
St. Vinsent Kaun; St. Apolinaris UskMrt.
 
 
Bacaan I : Yes. 38:1-6.21-22.7-8
Mazmur : Yes. 38:10.11.12abcd.16; R:17b
Bacaan Injil : Mat. 12:1-8
 
 
 
Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
 
 
Renungan
 
Rekan beriman terkasih, hari sabat dimaksudkan agar orang-orang Yahudi mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan Allah, dan bila perlu terlibat dalam kegiatan di Bait Allah. Aturan-aturan sabat diadakan supaya orang Yahudi mengarahkan pikirannya pada Allah. Polemik antara Yesus dan pemuka-pemuka Yahudi seringkali menyangkut hal ini. Yang menjadi persoalannya adalah pemuka-pemuka agama Yahudi belum terbuka mata dalam melihat bahwa kiprah hidup Yesus bersama para murid-Nya adalah melulu terarah pada Allah. Hadirnya para murid bersama Yesus, merupakan bentuk kebersamaan dengan Allah. Hidup bersama Yesus, sama dengan hidup di dalam Bait Allah. Jadi sebenarnya, bagi murid Yesus, setiap hari adalah hari Sabat.
 
Tindakan para murid Yesus memetik gandum pada hari sabat karena lapar, sebenarnya merupakan tindakan di dalam Allah. Artinya, para murid memetik gandum untuk dimakan, dengan tujuan agar mereka tetap memiliki energi untuk melakukan hal-hal di dalam dan bersama Yesus (atau bersama Allah). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tindakan memetik gandum adalah cara para murid untuk bertahan dalam kebersamaan dengan Yesus. Dan, pertanyaan untuk kita ialah; ”Apakah kita memiliki usaha-usaha agar hubungan kita dengan Yesus tetap bertahan?”
 
Ya Allah, semoga aku kreatif untuk mengusahakan agar relasiku dengan-Mu tetap membara, dan semoga Engkau memampukan aku untuk memulihkan relasi bila tampak mulai memudar. Amin.

Sabtu, 21 Juli 2018

 

Pekan Biasa XV (H) 
Sta. Agnes; St. Augurius dan Eulogius; 
St. Laurensius dr Brindisi
 
 
Bacaan I : Mi. 2:1-5 
Mazmur : 10:1-2.3-4.7-8.14; R:12b
Bacaan Injil : Mat. 12:14-21
 
 
 
Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ”Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.”
 
 
Renungan
 
Rekan beriman yang terkasih. Gereja merupakan persekutuan umat yang mendasarkan imannya pada Yesus Kristus. Sejak awal, Gereja mengimani bahwa Yesus merupakan pribadi yang pada-Nya Roh Allah bersemayam, yang pada-Nya Allah berkenan, sehingga hukum dan ketetapan Allah akan diwartakan ke segala bangsa. Hari ini kita menyaksikan kebenaran iman ini. Gereja berusaha membuat dunia tetap berada dalam koridor Allah. Begitu banyak tantangan dan hambatan yang dialami oleh Gereja dari jaman ke jaman. Tidak sedikit usaha untuk melumpuhkan dan menumpulkan daya pewartaan Gereja. Namun, keyakinan bahwa Allah menaruh Roh-Nya sendiri di dalam Gereja, lebih besar dibandingkan dengan kecemasan dan ketakutan terhadap tantangan dan hambatan itu. 
 
Kita pun merupakan bagian dari gereja Kristus. Kehadiran kita entah perorangan pun berkomunitas, merupakan kehadiran yang mengandung Roh Allah. Identitas ini harus kita pertanggungjawabkan semaksimal mungkin. Kehadiran kita mestinya menjadi kehadiran yang bernuansa pewartaan. Kehadiran kita mestinya menjadi kehadiran yang mencerahkan; yang memberi peneguhan bagi mereka yang patah semangat, yang melahirkan solusi bagi mereka yang tengah kebingungan, yang menunjukkan arah kebenaran bagi mereka yang tengah terjebak dalam kesesatan. Kehadiran kita mestinya menjadi kehadiran yang membuat semakin banyak orang mengarahkan pandangannya pada kebenaran, pada Allah sendiri. Semangat hidup seperti inilah yang dikehendaki oleh Yesus, pun juga sebagai wujud konkret kesatuan diri kita dengan Sang Hamba Allah itu. 
 
Ya Allah, bangkitkanlah semangat membara dalam diriku, agar kehadiranku sungguh-sungguh menampakkan kehadiran Yesus Kristus Putra-Mu. Amin.

Minggu, 22 Juli 2018

 

Pekan Biasa XVI (H)
Sta. Maria Magdalena; 
St. Teofilus 
 
 
Bacaan I : Yer. 23:1-6
Mazmur : 23:1-3a.3b-4.5-6b; R: 1
Bacaan II : Ef. 2:13-18
Bacaan Injil : Mrk. 6:30-34
 
 
 
Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan mem­beritahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
 
Renungan
 
Rekan beriman terkasih. Rasanya miris jika melihat antusiasme umat untuk mencintai Gereja kian waktu kian menurun. Banyak pula keluarga yang hidup menggerejanya kurang kompak. Kegiatan menggereja tak jarang dianggap sebagai rutinitas belaka, tanpa disertai motivasi iman yang mendalam. Di titik itu kita patut bertanya; ”Sungguhkah kita yakin bahwa iman kekristenan ini menyediakan sebuah jalan, kebenaran, dan kehidupan untuk keselamatan manusia?” 
 
Kisah Injil hari ini dapat dijadikan sebuah perbandingan. Dahulu orang berbondong-bondong mencari Yesus karena ingin mendengarkan Sabda-Nya dan mendapatkan kesembuhan. Kita bisa berasumsi bahwa orang-orang yang berbondong-bondong mendatangi Yesus itu saling mengajak satu sama lain. Mereka tentu saling menginformasikan dan berdiskusi, sehingga terbentuk sekumpulan besar orang yang memiliki satu kerinduan yang sama yakni berjumpa dengan Yesus. Kenyataan seperti ini tidaklah muncul dewasa ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, banyak orang Kristen tidak lagi melihat Yesus sebagai sosok utama dalam imannya. Kedua, iman akan Yesus sudah disisipi dengan semangat individualistis, iman menjadi urusan masing-masing pribadi. Alhasil, tak mengherankan jika kini begitu jarang kita melihat suami, istri, dan anak-anak berbondong-bondong memadati bangku-bangku Gereja. 
 
Marilah kita mengasah kepekaan dalam diri akan situasi iman dan Gereja kita, akan situasi kekristenan di sekitar. Kita tidak bisa terus menerus tinggal diam. Kita harus keluar dan mengajak orang-orang, minimal keluarga kita sendiri, untuk menjumpai keselamatan di dalam Yesus. 
 
Ya Allah, mampukanlah aku menjadi penggerak bagi orang-orang di sekitar, agar secara bersama-sama berusah untuk berjumpa dengan Yesus Kristus Putra-Mu. Amin.