RENUNGAN ZIARAH BATIN 2019

http://www.obormedia.com/content/ziarah-batin-2019

Senin, 25 Maret 2019

 

Pekan Prapaskah III (U)
HR Kabar Sukacita
 
Bacaan I : Yes. 7:10-14. 8:10
Mazmur : 40:7-8a, 8b-9, 10, 11
Bacaan II : Ibr. 10:4-10
Bacaan Injil : Luk. 1:26-38
 
Pada suatu hari Allah mengutus malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. 
 

Renungan
 

Peristiwa pewahyuan Allah melalui malaikat kepada Bunda Maria bukan semata-mata peristiwa rahmat melainkan sekaligus peristiwa iman. Allah menganugerahkan rahmat yang memampukan Maria untuk mengandung Yesus, anak Allah. Namun anugerah yang luar biasa itu bukan tanpa masalah. Ia sedang ‘bertunangan’ dengan Yusuf ketika kabar gembira itu muncul. Bagaimana ia harus mempertanggungjawabkan pilihannya itu? Dengan segala keterbatasannya, Maria tetap menjawab ‘terjadilah padaku menurut kehendak-Mu’. Inilah peristiwa keselamatan; wahyu Allah dijawab oleh manusia.
 
Hal yang diwartakan Injil dalam peristiwa kabar sukacita kali ini adalah peristiwa iman Gereja. Kita memiliki panggilan yang serupa dengan Maria. Kita dipanggil untuk mengandung dan melahirkan Yesus dalam tutur kata dan perbuatan kita sehari-hari. Seperti Maria kita pun dipanggil untuk menjadi pribadi yang taat di hadapan kehendak Allah. Keselamatan hanya mungkin terjadi ketika kita sanggup mengatakan ”Ya” di hadapan tawaran kasih Allah. Semoga dengan perayaan kabar sukacita ini, kita semakin berani untuk mewartakan sukacita injili dan melaksanakan apa yang sesuai dengan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari. 
 
Bapa, bantulah aku untuk melaksanakan apa yang Kaukehendaki. Biarkanlah hidupku menjadi kesaksian akan sukacita yang bersumber dari-Mu. Amin.

 

Tags: