Renungan Ziarah Batin 2017

Jumat, 21 Juli 2017

Pekan Biasa XV (H)
Sta. Agnes; St. Augurius dan Eulogius; St. Laurensius dr Brindisi

Bacaan I : Kel. 11:10–12:14
Mazmur : 116:12–13.15–16bc.17–18; R:13
Bacaan Injil : Mat. 12:1–8

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan

Pengorbanan anak domba bagi orang Israel ialah peringatan bahwa mereka diselamatkan Tuhan dari kematian anak-anak sulung di seluruh Mesir. Kalau melihat tanda darah anak domba pada rumah tempat mereka tinggal, ”Tuhan akan lewat” (Kel. 11:13). Kelak penghormatan pada hari Sabat bergeser menjadi sekadar aturan dan ritual di kalangan orang Yahudi. Itu sebabnya Yesus menanggapi teguran orang-orang Farisi atas murid-murid-Nya yang dianggap melanggar aturan hari Sabat dengan mengatakan, ”Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Mat. 12:8). Pergeseran makna ke arah pemutlakan aturan di atas belas kasihan terhadap manusia adalah kekeliruan yang harus diperbaiki, karena seharusnya kehendak Tuhan lebih penting daripada aturan buatan manusia. Yesus mengarahkan setiap perbuatan orang beriman kepada keselamatan sesama manusia, lebih daripada memenuhi kewajiban keagamaan belaka.

Tindakan-tindakan iman kita sebagai umat kristiani di zaman ini tidak boleh hanya merupakan kebiasaan keagamaan, tetapi mesti dikembalikan pada maknanya yang dimaksudkan Kristus. Yang dikehendaki-Nya adalah belas kasihan, bukan persembahan, maka kesejahteraan dan kebahagiaan sesama manusia harus menjadi prioritas perwujudan iman kita.

Yesus, Tuhanku, Engkau mengasihi manusia melebihi segala persembahan yang mereka berikan kepada-Mu. Semoga aku lebih mementingkan keselamatan dan kebahagiaan sesamaku daripada kesalehan-kesalehan pribadi. Amin.