Renungan Ziarah Batin 2017

Jumat, 28 April 2017 

 
PEKAN PASKAH II (P)
St. Louis Marie Grignon de Montfort;
St. Petrus Louis Chanel
Bacaan I : Kis. 5:34–42
Mazmur : 27:1.4.13–14; R: 4ab
Bacaan Injil : Yoh. 6:1–15
 
Pada waktu itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.
 
Renungan
 
Yesus mau menunjukkan perhatian dan kasih pemeliharaan Allah bagi umat-Nya. Dia menyembuhkan banyak orang sakit, sehingga semakin banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Ia kemudian juga memberi mereka makan, sehingga mereka makin kagum kepada-Nya dan mau menjadikan Dia raja. Namun, Dia menyingkir ke gunung seorang diri. Salah satu godaan pewarta justru kalau dia menjadi populer. Semakin populer dia, semakin dia merasa hebat. Bila tidak waspada, dia bisa berhenti mewartakan Tuhan, dan menarik popularitas itu untuk dirinya sendiri. Kita perlu meneladan Yesus, semakin sibuk dan populer kita, semakin perlu kita menyendiri untuk menyadari perutusan kita, bahwa bukan kita tapi Tuhanlah yang perlu dimuliakan.
 
Masalahnya sering kita merasa menyendiri dalam keheningan itu sebagai perbuatan yang sia-sia. Lantas semua waktu dipakai untuk pelayanan. Justru di situlah jebakannya, pelan-pelan kita tanpa sadar akan mewartakan diri sendiri. Kita perlu menyadari ini dengan rendah hati. Kita perlu matiraga dari ketenaran dan keramaian untuk dapat berjumpa dengan Tuhan yang mengutus kita.
 
Ya Tuhan, sadarkanlah diriku bahwa bukan aku, tetapi Engkaulah yang patut dipuji dan dimuliakan dalam setiap kata dan perbuatanku. Ingatkanlah selalu para pelayan dan utusan-Mu untuk tidak mencari popularitas diri sendiri dalam karya pelayanan ini. Amin.