Renungan Ziarah Batin 2017

Jumat, 24 November 2017

Pekan Biasa XXXIII
Pw St. Andreas Dung Lac, Im.dkk.Mrt. Vietnam (M)
St. Krisogonus; St. Vinsensius Liem; St. Ignasius Delgado; St. Dominikus An-Kham

Bacaan I : 1Mak. 4:36-37.52-59
Mazmur : 1Taw. 29:10-12d; R:13b

Bacaan Injil : Luk. 19:45-48

Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: ”Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Renungan

Tindakan revolusioner itu harganya mahal. Keberanian Yesus untuk membersihkan Bait Allah dari praktik-praktik kecurangan dan ketidakadilan membuat Ia semakin dibenci oleh para Imam dan pemimpin bangsa Yahudi. Tindakan Yesus mengganggu stabilitas kenyamanan dan kemapanan para pemimpin tersebut. Sementara nuansa yang sangat berbeda ditampilkan oleh Kitab Makabe. Di sana digambarkan sukacita bangsa Israel karena Bait Allah yang telah selesai dibangun dan betapa mereka penuh semangat untuk menghias Bait Allah tersebut dengan ornamen-ornamen indah sebagai persembahan bagi Allah. 

Dulu orang Israel penuh sukacita atas Bait Allah karena itu berarti Allah berdiam bersama mereka. Di zaman Yesus, sukacita itu berganti dengan ketidakadilan dan kecurangan yang membuat Bait Allah bagaikan sarang penyamun. 

Yesus mengingatkan orang Israel supaya bertobat dan kembali kepada sukacita yang pada masa lalu dialami leluhur mereka. Tetapi, pertobatan memang bukan perkara sederhana. Ketika manusia berniat untuk bertobat, ia harus berani mengubah dirinya secara revolusioner. Masalahnya, itu berarti harus mengubah situasi nyaman dan aman, ketenangan dan kenikmatan yang selama ini terbiasa dialami. Di sinilah tantangan bagi orang beriman. Beranikah kita mengubah cara hidup, membangun habitus baru untuk hidup seturut kehendak Allah? Atau kita memilih bertahan dengan segala kenyamanan seperti mereka yang menolak Yesus?

Tuhan Yesus, cairkanlah hatiku yang beku dan tuntunlah aku kepada pertobatan yang sejati. Amin.

 

Sabtu, 25 November 2017

Pekan Biasa XXXIII (H) 
Sta. Katarina dr Aleksandria, Prw/Mrt. 
B. Elisabeth dr Reute

Bacaan I : 1Mak. 6:1-13
Mazmur : 9:2-3.4.6.16b.19; R:16a
Bacaan Injil : Luk. 20:27-40

Pada suatu ketika, datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus: ”Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: ”Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Renungan

Salah satu hal khas dari sebuah masyarakat adalah peraturan. Di Indonesia, ada UUD 1945 yang berisi 37 pasal, dan entah berapa banyak UU maupun peraturan di berbagai level. Maksud dan tujuannya, semestinya, untuk menjamin kehidupan bersama yang damai dan sejahtera. Walau, dalam situasi tertentu, manusia bisa merasa terbelenggu dengan peraturan dan ingin merdeka, manusia tetap kembali pada mekanisme ”aturan main” karena yakin itulah cara terbaik untuk mencapai kebaikan bersama. Orang Yahudi, yang juga punya banyak peraturan, kiranya mewakili karakter yang demikian. Mereka memegang teguh peraturan Musa sebagai pegangan hidup mereka. Ini hal yang baik. Masalah muncul ketika mekanisme aturan main dan cara pandang mereka hendak diaplikasikan kepada Allah dan hal-hal surgawi. Mereka juga mau membatasi Allah pada aturan main manusia. 
 
Yesus menegaskan bahwa Allah itu hidup, bukan Allah yang mati. Dia adalah Allah yang dinamis dan melampaui batasan manusia, termasuk peraturan. Kisah Raja Antiokhus dalam bacaan pertama menunjukkan bahwa kemanusiaan itu selalu berbatas. Kejayaan dan kekuatan, kecerdasan dan kekuasaan seperti apa pun pada akhirnya akan runtuh. Maka, tidakkah ironis bila manusia yang terbatas hendak mengatur Allah yang Mahakuasa? Apakah kita juga mencoba untuk memasukkan Allah dalam cara berpikir manusiawi kita? Iman menuntun kita untuk hidup mengikuti gerakan Allah, bukan memaksa Allah bergerak seturut kehendak kita. 
 
Ya Allah sumber kehidupan, arahkanlah kehendak dan pikiranku kepada kehendak-Mu supaya hidupku menjadi tanda kasih-Mu yang nyata. Amin.
 
 

Minggu, 26 November 2017

Pekan Biasa XXXIV - HR Tuhan Yesus 
Kristus Raja Semesta Alam (P)
St. Yohanes Berchmans; St. Silvester Gozzollini;
St. Leonardus Porto Morizio; Sarbel Maklouf
 
Bacaan I : Yeh. 34:11-12.15-17
Mazmur : 23:1-2a.2b-3.5-6: R: 1
Bacaan II : 1Kor. 15:20-26a.28
Bacaan Injil : Mat. 25:31-46

Sekali peristiwa Yesus berkata, ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab...).

Renungan

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Biasanya, seorang Raja identik dengan kuasa. Karena kuasanya, ia berhak memutuskan apa saja. Gambaran raja penuh kuasa tanpa batas itu juga ditampilkan oleh Injil Matius hari ini. Injil menampilkan seorang raja yang menghakimi rakyatnya. Tetapi, tidak seperti raja lalim atau semena-mena, Sang Raja justru mengidentifikasikan diri sebagai orang lemah. Dalam pengadilan yang dikisahkan dalam Injil, Sang Raja menggunakan kuasa-Nya untuk membela mereka yang lemah dan dalam kesulitan. 
 
Kiranya demikianlah karakter Yesus Raja Semesta Alam yang kita imani. Ia Raja yang sekaligus berkuasa dan penuh belas kasih. Belas kasih-Nya ini menjadi sumber harapan akan keselamatan bagi kita. Belas kasih-Nya juga mengingatkan kita untuk memperhatikan mereka yang lemah dan menumbuhkan rasa malu atas kesombongan kita di hadapan Raja Mahakuasa yang justru membiarkan diri menjadi orang lemah dan teraniaya. 
 

Ya Kristus Raja Semesta Alam, tumbuhkanlah iman sejati dalam hatiku yang mengarahkan seluruh hidupku hanya kepada-Mu dan tanamkanlah semangat belas kasih seperti-Mu supaya hidupku menjadi berkat bagi sesama. Amin.