"LAUDATO SI"

 
 
DOWNLOAD TEKS GRATIS       
 
Published on Sep 1, 2015

ENSIKLIK LAUDATO SI'

Merupakan ensiklik terbaru Paus Fransiskus, yang secara khusus berbicara tentang ekologi. Ensiklik ini lahir dari keprihatinan Gereja atas alam ciptaan yang semakin rusak akibat ulah manusia. Alih-alih menjaga dan merawatnya, manusia justru semakin hari semakin merusak alam dalam berbagai bentuknya, tanpa kendali.

Alam ciptaan Tuhan menangis. Kesemena-menaan yang didorong oleh sikap rakus dan serakah harus dihentikan. Manusia harus ambil bagian secara nyata dalam pelestarian alam dan lingkungan, yang merupakan anugerah Tuhan bagi kita, sekaligus titipan anak-cucu kita.

Laudato Si' edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Pastor Prof. Dr. Martin Harun OFM, bersumber dari edisi Bahasa Prancis. Proses penerjemahan sampai peluncurannya memakan waktu 2 bulan penuh.

Selasa, 1 September, bertepatan dengan Hari Doa Sedunia untuk Peduli Ciptaan, Laudato Si' edisi bahasa Indonesia diluncurkan dalam misa khusus di Gedung OBOR, Lantai 6.

Berikut kutipan bagian awal dari Ensiklik ini:

"LAUDATO SI ', mi' Signore", "Terpujilah Engkau, Tuhanku".
Dalam nyanyian yang indah ini, Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka. "Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengasuh kami, dan menumbuhkan berbagai buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rerumputan”.

Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasa yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita. Ia "mengeluh dalam rasa sakit bersalin” (Roma 8:22). Kita lupa bahwa kita sendiri dibentuk dari debu tanah (Kejadian 2: 7); tubuh kita tersusun dari partikel-partikel bumi, kita menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya.

Video: Suryo Bagus Tri Hatmojo, Markus Mulyono, Antonius Lewar