Sosio Pastoral

Frans Seda

Rp 35.200

Merawat Indonesia di Saat Krisis

Tanpa Keadilan setiap orang yang memiliki kekuasaan sulit untuk membedakan antara recht (hukum), wet (peraturan), dan macht (kekuasaan). Frans Seda berargumentasi, "Dari pengalaman saya sebagai Menteri, seorang yang berkuasa mudah sekali terbawa oleh kekuasaan (unjuk kuasa), oleh prestise intrik-intrik sehingga dalam mengadakan pengaturan-pengaturan tidak secara murni lagi melihat mana yang merupakan kepentingan umum, mana yang pribadi, mana yang menjadi hak umum, hak orang dalam haknya. Kabur pula rasa adil. Keadilan dan recht pun terkubur."

Mengenal lebih dalam pribadi dan pengabdian bagi bangsa dan negara tanpa meninggalkan ke-Katolikannya. Iman Katolik justru menjadi jiwanya dalam pelayanannya.

"Orang ini adalah seorang Katolik yang setelah mendengar Khotbah di bukit, langsung tanpa ragu-ragu melaksanakannya di dalam politik, bisnis, dan hubungan antar agama." (Franz Magnis Suseno)

Soft Cover; 15x23 cm; 176 hlm

978-979-565-6395
Price: Rp. 14.080

Ludovicus Doewe

Rp 25.000

Pelopor Sunda Katolik

Ludovicus Doewe yang lahir di Ciledug, Cirebon, 7 November 1907 merupakan satu-satunya pemeluk Katolik di Ciledug saat itu. Orang tua, keluarga besar, maupun masyarakat di mana ia tinggal adalah pemeluk Islam yang taat. Awalnya memang berat. Meski kedua orangtuanya merestui Doewe masuk Katolik, tidak demikian halnya dengan sanak saudara maupun masyarakat. Doewe sempat frustrasi. Namun lambat laun Doewe bangkit dan mampu berperan normal dalam masyarakat.

Ikutilah kisahnya dalam buku ini.

Soft Cover; 11x17.5 cm; 136 hlm

978-979-565-625-8
Price: Rp. 7.500

Usia Lanjut yang Berahmat dan Berdaya Pikat

Rp 50.000

Setiap tahapan kehidupan yang dilalui manusia akan menjadi bermakna tergantung bagaimana kita menghayatinya. Biasanya, masa yang paling sulit dan menyebalkan adalah masa tua, usia lanjut. Bagaimana kita memandang dan menghayati usia lanjut, amat menentukan kebahagiaan kita.

Buku ini mengupas tuntas mengenai ciri-ciri khas dan gejala serta kendala yang dialami manusia lanjut, pola-pola penghayatan, dan rangkaian karunia serta karya yang dinikmati dan dihayatinya secara silih berganti. Dengan demikian, usia lanjut benar-benar menjadi masa yang penuh berkah dan rahmat. Sebuah buku penuntun yang baik untuk memahami kaum lanjut usia dan pegangan yang perlu dalam menghayati usia lanjut sebagai karunia bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Soft Cover; 14x21 cm; 220 hlm
Cetakan II: 2010

978-979-565-445-2
Price: Rp. 40.000

The Spiritual Brain (Soft Cover)

Rp 95.000

Apakah Tuhan yang Menciptakan Otak? Ataukah Otak yang Menciptakan Tuhan?

Kematangan iman Anda akan semakin purna. Apakah pengalaman religius berasal dari Tuhan, ataukah pengalaman itu sekadar merupakan tembakan neuron yang acak di dalam otak? Melalui pencitraan otak terhadap sekelompok biarawati Karmelit, Beauregard menunjukkan bahwa peristiwa spiritual bisa didokumentasi secara ilmiah. Ia menawarkan bukti kuat bahwa pengalaman religius memiliki sumber yang non-materialis, dengan jawaban bahwa Tuhan-lah yang menciptakan pengalaman spiritual kita, dan bukan otak. Beauregard dan O’Leary menjajaki berbagai upaya mutakhir untuk mengetahui lokasi “gen Tuhan” di dalam diri kita, dan menyatakan bahwa otak kita sudah “dirancang” bagi agama—bahkan ada kasus aneh di mana seorang ahli saraf menciptakan “helm Tuhan” elektromagnetik untuk memicu pengalaman mistikal pada si pemakainya.

Kedua penulis berpendapat upaya-upaya tersebut salah arah dan picik karena mereduksi pengalaman spiritual menjadi sekadar fenomena materi. Banyak saintis mengabaikan bukti keras yang menantang pendirian tradisional mereka, dengan berpegang teguh bahwa pengalaman kita hanya dapat dijelaskan oleh kausa materialis, bahwa dunia fisik adalah satu-satunya realitas. Namun, materialisme ilmiah tidak mampu menjelaskan tentang “pikiran yang mengendalikan materi”; intuisi, kehendak bebas, dan lompatan iman; efek plasebo dalam pengobatan; pengalaman dekat-ajal di meja operasi; dan firasat bahwa orang terkasih sedang mengalami krisis; dan terutama rasa penyatuan dengan alam semesta yang kadang terjadi serta pengalaman mistikal selama meditasi dan doa. Sains tradisional memandang semua ini sebagai delusi, tetapi melalui penelitian neurologis paling mutakhir tentang fenomena-fenomena seperti itu, The Spiritual Brain tiba pada Sang Realitas yang sejati.

978-979-565-512-1
Price: Rp. 28.500

The Spiritual Brain (Hard Cover)

Rp 150.000 

Apakah Tuhan yang Menciptakan Otak? Ataukah Otak yang Menciptakan Tuhan?

Kematangan iman Anda akan semakin purna. Apakah pengalaman religius berasal dari Tuhan, ataukah pengalaman itu sekadar merupakan tembakan neuron yang acak di dalam otak? Melalui pencitraan otak terhadap sekelompok biarawati Karmelit, Beauregard menunjukkan bahwa peristiwa spiritual bisa didokumentasi secara ilmiah. Ia menawarkan bukti kuat bahwa pengalaman religius memiliki sumber yang non-materialis, dengan jawaban bahwa Tuhan-lah yang menciptakan pengalaman spiritual kita, dan bukan otak. Beauregard dan O’Leary menjajaki berbagai upaya mutakhir untuk mengetahui lokasi “gen Tuhan” di dalam diri kita, dan menyatakan bahwa otak kita sudah “dirancang” bagi agama—bahkan ada kasus aneh di mana seorang ahli saraf menciptakan “helm Tuhan” elektromagnetik untuk memicu pengalaman mistikal pada si pemakainya.

Kedua penulis berpendapat upaya-upaya tersebut salah arah dan picik karena mereduksi pengalaman spiritual menjadi sekadar fenomena materi. Banyak saintis mengabaikan bukti keras yang menantang pendirian tradisional mereka, dengan berpegang teguh bahwa pengalaman kita hanya dapat dijelaskan oleh kausa materialis, bahwa dunia fisik adalah satu-satunya realitas. Namun, materialisme ilmiah tidak mampu menjelaskan tentang “pikiran yang mengendalikan materi”; intuisi, kehendak bebas, dan lompatan iman; efek plasebo dalam pengobatan; pengalaman dekat-ajal di meja operasi; dan firasat bahwa orang terkasih sedang mengalami krisis; dan terutama rasa penyatuan dengan alam semesta yang kadang terjadi serta pengalaman mistikal selama meditasi dan doa. Sains tradisional memandang semua ini sebagai delusi, tetapi melalui penelitian neurologis paling mutakhir tentang fenomena-fenomena seperti itu, The Spiritual Brain tiba pada Sang Realitas yang sejati.

978-979-565-513-8
Price: Rp. 45.000

Sisi Gelap – Sisi Terang

Rp 45.000

Bagaimana Mengolahnya dalam Diri Kita Sehingga Menghasilkan Energi Positif

Sukses atau gagal tergantung dari bagaimana kita mengenal dan menghayati diri kita seutuhnya, termasuk bagian diri yang tidak kita sukai, bahkan yang tidak kita kenali.

Buku ini akan banyak membantu kita dalam menelusuri, memahami, dan menghadapi bayangan batin atau sisi gelap dalam diri kita secara positif. Ditunjukkan pula jalan mengenal diri yang membawa kepada sikap dan kemampuan untuk semakin menerima dan menyukai diri.

Pembaca akan mempelajari sisi-sisi diri yang semula ditutup-tutupi, bahkan diproyeksikan kepada sesama, agar kemudian bersedia menariknya kembali, lalu mengolahnya menjadi positif sebagai bagian diri yang hakiki. Melalui usaha itu, lambat laun kita berdamai dengan semua unsur yang ada pada diri kita, dan merintis jalan menghayati hidup rohani tanpa banyak gangguan.

Soft Cover; 14x21 cm; 208 hlm

978-979-565-497-1
Price: Rp. 36.000

Semangat Lebih Yesuit

Rp 45.000

From Good to Great membahas bagaimana sebuah organisasi mentransformasi diri dari ”baik” menjadi ”unggul”. Dan dalam keadaan ”hebat” ini, ia mampu bertahan secara berkelanjutan, dengan mempraktikkan wisdom yang dimiliki oleh berbagai organisasi profetis. Mentrasformasi diri dari baik menjadi unggul itulah semangat magis.

Tulisan ini menelusuri sejarah 150 tahun Serikat Jesus (SJ) berkiprah di Indonesia, sebuah ordo dalam Gereja Katolik yang telah jatuh bangun dalam liku-liku perjuangan membangun Gereja dan bangsa dari good menjadi great di kepulauan Nusantara ini. Betapa tidak, ”magis” menjadi elemen penting yang tersimpan dalam semangat SJ. Meski bukan tulisan sejarah yang ”ketat”, buku ini menunjukkan pilar-pilar sejarah yang bisa menjadi jangkar untuk hidup kita sekarang.

Diharapkan lika-liku perjuangan Yesuit dan rahasia semangat magisnya memberi insight bagi semakin banyak orang yang berkehendak baik dalam memajukan Gereja dan bangsa.

Soft Cover; 15x23cm; 240 hlm

978-979-565-514-5
Price: Rp. 13.500

Seks, Selibat, dan Persahabatan sebagai Karisma

Rp 25.000

Religius dipanggil untuk dapat di mana saja mereka ditempatkan, tetapi tidak untuk memiliki ”rumah serta keluarga bagi dirinya sendiri.” Selibat bakti merupakan syarat utama yang memungkinkan seorang religius untuk berkeliling seumur hidup. Di sisi lain, mengingkari ”rumah” dan ”keluarga” tidak berarti bahwa religius menyangkal ikatan-ikatan manusiawi, merendahkan seks dan perkawinan, melainkan justru memberikan tempat yang berharga kepada sebuah bentuk ikatan yang disebut dengan persahabatan. Akan tetapi, masihkah hidup selibat dipandang sebagai jalan hidup yang memikat dan suatu keharusan bagi orang yang ingin melayani Tuhan?

Buku ini secara khusus akan membahas arti serta nilai-nilai yang terkandung dalam selibat bakti dan beragam motivasi seseorang ingin hidup selibat. Diulas pula sejarah selibat bakti dan beragam kritik dan tantangannya dalam praktik hidup selibat para imam, biarawan/wati dalam sejarah Gereja. Jika selibat bakti dipahami dan dijalani sebagai sebuah karisma, maka diperlukan suatu penilaian kembali yang realistis dalam terang pengalaman saat sekarang, di tengah euforia kebebasan yang cenderung kebablasan dalam banyak aspek kehidupan, termasuk seksualitas dan persahabatan kaum religius yang menjalaninya.

Nihil Obstat: Petrus Aman OFM
Imprimatur: 
Yohanes Subagyo Pr (Vikjen. Keuskupan Agung Jakarta)

Soft Cover; 14×21; 144 hlm

 
978-979-565-503-9
Price: Rp. 7.500

Sandal Jepit Gereja

Rp 27.500

Dalam Struktur Gereja Katolik yang dahsyat dan dipelihara secara kukuh, posisi seorang ketua lingkungan berada di lapisan terendah, sedangkan Paus tentulah menempati struktur nun jauh diatas. Jadi andai diperkenankan berandai-andai, Paus pantaslah kita sebut sebagai “Mahkota Gereja", sedangkan seorang ketua lingkungan di lapis dasar cukuplah menjadi… “Sandal Jepit Gereja”.

Melalui buku ini, Anda diajak masuk lebih dekat untuk menyelami persoalan-persoalan yang dihadapi umat beriman—yang bahkan Anda pun mungkin tidak membayangkan sebelumnya.

“Hal-hal kecil dalam hidup menggereja di kelompok basis bagaikan kerikil-kerikil tajam di jalan yang luput dari perhatian para pejalan kaki—baik yang bersandal jepit maupun yang tidak—namun sungguh menyakitkan bila terinjak. Demikian juga hal-hal sederhana dan riil yang dikisahkan dalam buku ini sungguh menyentak batin dan memberi inspirasi bagi setiap orang Katolik, terutama pelayan jemaat untuk mereformasi hidup iman dan pelayanannya.” (Anselmus Selvus SVD, Pastor paroki St. Arnoldus Janssen-Bekasi)

Buku ini ditulis dengan kalimat-kalimat jernih, ringan, dan jenaka. Namun dalam beberapa kisah kita—tanpa sadar—air mata kita akan menetes haru.
Berisi antara lain: Menangislah Lektorku, Selingkuhlah, Kau Kutunggu, Lupakan Sinterklas, Koin untuk Yesus, 18 Jam Pertama, Sejak Gempa Mengguncang, Bahkan Bunga Bakung pun Mengajariku, Keajaiban dari Sebuah Kalimat Positif.

Soft Cover; 11x17.5 cm; 224 hlm

978-979-565-519-0
Price: Rp. 8.250

Preparing Excellent Leaders

Rp 38.500

Ingin membangkitkan pemimpin dari Gereja lokal Anda? Ingin mengembangkan kepemimpinan Anda lebih lagi? Ingin membangun pemimpin yang memiliki karakter, visi, dan terampil?

Buku ini adalah jawabannya! Buku ini sangat praktis, siap saji, sebagai alat untuk membantu para pemimpin, para gembala, para Hamba Tuhan (pengusaha, pemimpin organisasi, kaum profesional dan semua yang berjiwa pemimpin) untuk mempersiapkan, membangkitkan serta mengembangkan generasi pemimpin dari dalam Gereja lokal masing-masing atau dalam organisasi Anda.

Soft Cover; 14x21 cm; 208 hlm

978-979-565-604-3
Price: Rp. 11.550

Pages