Filsafat & Teologi

Hukum Kata Kerja

Rp 65.000  

Diskursus Filsafat tentang Hukum Progresif

Hukum bukanlah bagian dari negara melainkan dari hidup manusia; dan karena hidup manusia itu dinamis maka hukum juga dinamis. Dalam perspektif ini, hukum progresif dari Satjipto Rahardjo disebut sebagai paham Hukum Kata Kerja, yang diperlawankan dengan paham Hukum Kata Benda dari legalisme atau positivisme hukum. Possitivisme hukum memandang hukum secara statis, yakni hukum adalah apa yang telah ditetapkan sebagai undang-undang. Selama undang-undang itu belum dicabut menurut prosedur hukum yang berlaku, maka walaupun isinya jahat ataupun isinya sudah bertentangan dengan kewajaran hidup manusia, tetap berlaku sebagai hukum, dan karena itu wajib ditaati. Cara berhukum seperti inilah yang mau ditanggapi oleh hukum progresif sebagai Hukum Kata Kerja, agar manusia tidak menjadi tawanan undang-undang.

978-979-565-575-6
Price: Rp. 19.500

Agama dengan Dua Wajah

Rp 32.000  

Refleksi Teologi atas Tradisi dalam Konteks
tentang: Wajah Allah bagi Manusia, Paradoks Salib dan Penderitaan, Pluralitas Agama, Relasionalitas Alam, dan Makna Sejarah

Nihil Obstat : Madya Utama, SJ
Imprimatur :
Yohanes Subagyo, Pr (Vikjen Keuskupan Agung Jakarta)

978-979-565-534-3
Price: Rp. 12.800

The Spiritual Brain (Soft Cover)

Rp 95.000

Apakah Tuhan yang Menciptakan Otak? Ataukah Otak yang Menciptakan Tuhan?

Kematangan iman Anda akan semakin purna. Apakah pengalaman religius berasal dari Tuhan, ataukah pengalaman itu sekadar merupakan tembakan neuron yang acak di dalam otak? Melalui pencitraan otak terhadap sekelompok biarawati Karmelit, Beauregard menunjukkan bahwa peristiwa spiritual bisa didokumentasi secara ilmiah. Ia menawarkan bukti kuat bahwa pengalaman religius memiliki sumber yang non-materialis, dengan jawaban bahwa Tuhan-lah yang menciptakan pengalaman spiritual kita, dan bukan otak. Beauregard dan O’Leary menjajaki berbagai upaya mutakhir untuk mengetahui lokasi “gen Tuhan” di dalam diri kita, dan menyatakan bahwa otak kita sudah “dirancang” bagi agama—bahkan ada kasus aneh di mana seorang ahli saraf menciptakan “helm Tuhan” elektromagnetik untuk memicu pengalaman mistikal pada si pemakainya.

Kedua penulis berpendapat upaya-upaya tersebut salah arah dan picik karena mereduksi pengalaman spiritual menjadi sekadar fenomena materi. Banyak saintis mengabaikan bukti keras yang menantang pendirian tradisional mereka, dengan berpegang teguh bahwa pengalaman kita hanya dapat dijelaskan oleh kausa materialis, bahwa dunia fisik adalah satu-satunya realitas. Namun, materialisme ilmiah tidak mampu menjelaskan tentang “pikiran yang mengendalikan materi”; intuisi, kehendak bebas, dan lompatan iman; efek plasebo dalam pengobatan; pengalaman dekat-ajal di meja operasi; dan firasat bahwa orang terkasih sedang mengalami krisis; dan terutama rasa penyatuan dengan alam semesta yang kadang terjadi serta pengalaman mistikal selama meditasi dan doa. Sains tradisional memandang semua ini sebagai delusi, tetapi melalui penelitian neurologis paling mutakhir tentang fenomena-fenomena seperti itu, The Spiritual Brain tiba pada Sang Realitas yang sejati.

978-979-565-512-1
Price: Rp. 28.500

Pages